Oleh: Tim Redaksi
Foto: pemimpin gereja di wilayah Nusa Tenggara - Bali telah menandatangani surat gembala Pra-Paskah 2025 yang menyerukan agar umatnya ikut terlibat menjaga ciptaan. (Edit Poco Leok Melawan) |
“Kristus datang membawa hidup berkelimpahan (bdk. Yoh. 10:10). Namun, realitas menunjukkan banyak saudara kita menghadapi ancaman. Dalam semangat persaudaraan, kami menyampaikan keprihatinan mendalam atas beberapa persoalan mendesak.”
Kalimat pengantar pada paragraf kedua dalam “Surat Gembala Masa Pra-Paskah Para Uskup Provinsi Gerejawi Ende” yang dibacakan oleh uskup Labuan Bajo, MGR Maksimus Regus dalam siaran youtube Komsos Labuan Bajo pada 22 Maret 2025 lalu, merupakan respon para petinggi sekaligus pemimpin gereja di wilayah Nusa Tenggara - Bali terkait ragam polemik yang telah dan akan terjadi di tengah-tengah masyarakat, sosial serta lingkungan.
Surat yang dibacakan itu telah ditandatangani oleh 6 uskup dalam ‘Sidang Tahunan Para Uskup Provinsi Gereja Ende’ di Seminari Tinggi Santu Petrus Ritapiret, Maumere pada 10-13 Maret 2025, diantaranya; Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD (Uskup Agung Ende), Mgr. Fransiskus Kopong Kung (Uskup Larantuka), Mgr. Martinus Ewaldus Sedu (Uskup Maumere), Mgr. Siprianus Hormat (Uskup Ruteng),Mgr. Maksimus Regus (Uskup Labuan Bajo), dan Mgr. Silvester San (Uskup Denpasar).
Ada empat poin penting perhatian gereja sekaligus mengajak seluruh umat untuk terlibat mengambil peran sebagai penjaga kehidupan dan pelayan sesama. Salah satu dan menjadi poin pertama adalah Eksploitasi Energi: Memilih Masa Depan Secara Bijaksana. Pandangan gereja, pembangunan harus berkelanjutan. Namun, eksploitasi sumber daya alam, termasuk energi geothermal di Flores dan Lembata, menimbulkan pertanyaan. Apakah kita membangun masa depan yang lebih baik atau justru merusaknya?
“Pulau-pulau kecil dengan ekosistem rapuh ini berisiko besar. Eksploitasi yang tidak bijaksana berdampak pada lingkungan, ketahanan pangan, keseimbangan sosial dan keberlanjutan kebudayaan. Kita telah menyaksikan sejumlah persoalan yang muncul dari (rencana) eksplorasi dan eksploitasi energi geothermal. Kami menilai energi geothermal bukanlah pilihan yang tepat untuk konteks Flores dan Lembata, dengan topografinya yang dipenuhi gunung dan bukit dan sumber mata air permukaan yang amat terbatas,” tulis para uskup.
Foto: Warga Poco Leok melakukan aksi protes di Kota Ruteng pada Rabu, 9 Agustus 2023. Mereka menolak proyek geothermal. (Dokumentasi warga) |
Bagi para petinggi gereja itu, Pilihan eksploitatif yang sedang dicanangkan oleh PT. PLN bertabrakan dengan arah utama pembangunan yang menjadikan wilayah ini sebagai daerah pariwisata, pertanian, perkebunan, peternakan unggulan serta pertanian dan kelautan.
“Gereja dipanggil menjaga ciptaan. Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ menekankan bahwa krisis sosial dan lingkungan saling terkait. Kami mendorong penggunaan energi ramah lingkungan, seperti energi surya, dengan tanggung jawab dan visi keberlanjutan,” tegas mereka.
Tidak hanya itu, gagasan yang telah menjadi sikap gereja juga searah dengan Surat Pastoral Konferensi Federasi Para Uskup Se-Asia Kepada Gereja-Gereja Lokal di Asia tentang “Pemeliharaan Ciptaan: Panggilan untuk Pertobatan Ekologis (15 Maret 2025)”.
Poin lain yang menjadi perhatian para uskup adalah tentang Perdagangan Orang: Luka Kemanusiaan Mendesak, Stunting: Ancaman bagi Masa Depan Generasi dan Wabah Peternakan dan Pertanian: Ancaman Ketahanan Pangan.
Pada akhir pembacaan surat gembala itu, Uskup Labuan Bajo menegaskan bahwa masa Pra-Paskah adalah kesempatan membangun komitmen baru: merawat kehidupan, menjaga keadilan sosial, dan memelihara ciptaan. Kita berjalan bersama dalam harapan akan kebangkitan yang membawa terang bagi dunia. “Sebab, harapan kristiani memanggil kita untuk terlibat aktif dalam pemulihan ciptaan dan penyembuhan luka-luka dunia kita,” tuturnya.
Maka dari itu, lembaga gereja pun menyerukan ajakan kepada umat kristiani untuk menjaga lingkungan dengan menolak eksploitasi sumber daya yang merusak ekosistem, termasuk energi geothermal, di Flores dan Lembata, yang menimbulkan pertanyaan berbagai pihak saat ini. kedua, menjadi suara bagi yang tak bersuara, dengan berperan aktif dalam pemberantasan perdagangan orang.
Ketiga, mendukung program kesehatan dan gizi, khususnya pencegahan stunting dan kesejahteraan anak-anak, keempat, mengupayakan pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan kesejahteraan sosial dan kelestarian alam. Dan kelima, terlibat dalam aksi nyata, seperti kampanye lingkungan, advokasi kebijakan publik, dan gerakan sosial untuk keadilan.