Oleh: Trisno Arkadeus, warga Poco Leok
Foto: Sejumlah pihak keamanan yang mengawal pagar kantor Bupati Manggarai usai insiden saling dorong bersama massa aksi Poco Leok pada 3 Maret 2025 (Dokumentasi warga) |
Pada 20 Maret 2025, berita dari infopertama.com, mengenai aksi penolakan proyek geothermal dan pengumpulan uang receh oleh kelompok Poco Leok, cukup mengundang perhatian luas. Dalam laporan tersebut, isu penggalangan dana untuk memperbaiki pagar yang dirusak selama demonstrasi menjadi sorotan utama.
Namun, muncul sejumlah persoalan kritis yang perlu dianalisis lebih dalam, baik dari perspektif logika, provokasi, maupun substansi yang lebih besar terkait proyek geothermal itu sendiri. Saya mulai dengan judul yang bagi saya adalah bagian dari upaya pemarginalan secara verbal terhadap perjuangan masyarakat adat Poco Leok.
Judul berita yang menyebutkan "Topeng Mulai Terlepas" seolah-olah mencoba menampilkan penolakan masyarakat terhadap proyek geothermal di Poco Leok sebagai sebuah drama yang terungkap. Namun, apakah judul ini benar-benar mencerminkan kenyataan, ataukah hanya sebuah topeng yang menutupi kompleksitas masalah yang lebih dalam?
Saya adalah pemuda Poco Leok, dan melalui tulisan ini, saya ingin publik Manggarai memahami substansi persoalan ketimbang fenomena receh yang menutupi sentralitas persoalan. Toh persoalan pagar adalah bukan satu-satunya persoalan di Manggarai yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Kenapa harus ini yang menjadi isu serius, sangat receh menurut saya. Apakah benar korupsi pejabat-pejabat kita sudah tuntas terselesaikan atau tidak? Apakah kasus persoalan seksualitas dan atau kekerasan lainya sudah normal kembali? Kenapa yang ini dibiarkan, kenapa persoalan yang lebih besar dari pagar bisa disembunyikan? Saya tidak sedang menggiring siapapun, saya ingin kebijakan dan kekritisan selalu ada dalam pikiran dan sanubari kita, sebagaimana keharusan dari peradaban yang terus kita alami.
Lebih lanjut bahwa, dalam konteks ini, istilah "topeng" yang dipakai penulis berita Infopertama.com, bisa diinterpretasikan sebagai simbol dari narasi yang disembunyikan. Penting untuk menimbang bahwa penolakan masyarakat bukanlah sekadar aksi tanpa alasan; ia mencerminkan kekhawatiran yang sah tentang dampak ekologis dan sosial dari proyek geothermal. Judul ini tampaknya berupaya menutupi realitas yang lebih mendalam, seolah-olah perjuangan warga adalah sebuah topeng yang menutupi kepentingan atau agenda yang lebih besar.
Lebih jauh lagi, penggalangan dana untuk memperbaiki pagar yang rusak bisa jadi bukan hanya sekadar tindakan simbolis, tetapi juga sebuah upaya untuk menyoroti ketidakadilan yang dialami oleh masyarakat. Namun, jika dilihat dari sudut pandang judul ini, seolah-olah penolakan mereka hanya merupakan permainan di balik layar, tanpa menyentuh inti permasalahan yang dihadapi.
Terlepas dari itu, pada hari yang sama, saya membaca postingan dari seorang Dosen IFTK Ledalero, Toni Mbukut, melalui akun media sosial Facebook nya, yang mengatakan bahwa “ketika penguasa menutup hati untuk persoalan besar dan bertingkah hiperaktif untuk persoalan receh, maka ayo kita beri mereka uang receh agar mata mereka melek melihat soal yang betul-betul sedang terjadi”. lebih lanjut, kata dia, “rasanya aneh sekali ketika mereka merasa begitu gelisah dengan pagar rusak, tetapi merasa bangga dan berlagak pahlawan ketika membentang karpet merah untuk pengusaha yang mengancam alam dan masyarakat adat”.
Sengaja saya membandingkan dua hal ini, sebagai sebuah interdisipliner dari dua sosok yang berbeda. Tujuanya adalah agar kita bisa berperspektif secara lebih rasional dan yang paling penting memahami isu tidak secara objektif dan pragmatik. Bukan hanya tentang persoalan Geothermal, tetapi juga isu yang lain yang menuntut partisipasi dan prespektif kita.
Foto: Sejumlah pihak keamanan yang mengawal pagar kantor Bupati Manggarai usai insiden saling dorong bersama massa aksi Poco Leok pada 3 Maret 2025 (Dokumentasi warga) |
Analisis Logical Fallacies dalam Berita
Sangat urgent rasanya untuk menimbang berita tersebut sebagai suatu Logical Fallacies. Salah satu masalah utama dalam berita tersebut adalah adanya logical fallacies yang dapat menyesatkan pemahaman publik. Misalnya, narasi bahwa kerusakan pagar adalah "hasil uang pajak seluruh masyarakat Manggarai".
Tentu saja, hemat saya, hal tersebut akan berpotensi menciptakan opini negatif terhadap para demonstran. Hal ini menciptakan kesan bahwa tindakan mereka adalah bentuk pengrusakan terhadap aset yang dimiliki oleh masyarakat luas, padahal mereka berjuang untuk isu yang lebih besar, yaitu hak hidup dan kelestarian lingkungan mereka.
Ini adalah bentuk fallacy ad hominem, yang menyerang karakter dan tindakan individu atau kelompok tanpa mempertimbangkan konteks yang lebih luas. Dalam hal ini, penekanan pada kerusakan pagar mengalihkan perhatian dari isu utama, yaitu dampak negatif dari proyek geothermal yang dapat berpotensi merusak lingkungan dan mata pencaharian warga Poco Leok.
Foto: Salah satu media lokal, media Infopertama.com, diduga menerbitkan berita yang mengandung unsur provokasi. (Screenshot) |
Provokasi dan Manipulasi Opini Publik
Tidak cukup disitu, saya beranggapan bahwa, berita ini juga terindikasi mengandung unsur provokasi. Penyebutan bahwa kerusakan pagar tersebut merupakan hasil dari "uang pajak seluruh masyarakat Manggarai" bertujuan untuk menciptakan kesan bahwa para demonstran adalah pengganggu yang merugikan semua orang.
Ini bisa memicu kemarahan publik, yang pada gilirannya dapat memperkuat sikap anti-demonstrasi di kalangan masyarakat yang kurang memahami substansi permasalahan.
Sebagai contoh, kalimat yang menyatakan bahwa "pagar yang dirusak adalah hasil uang rakyat" dapat dianggap sebagai upaya untuk mendiskreditkan perjuangan kelompok penolak. Dengan cara ini, berita tersebut berpotensi mendoktrin masyarakat ke arah pandangan yang merugikan mereka yang memperjuangkan hak-hak mereka.
Substansi Masalah: Proyek Geothermal dan Dampaknya
Sekali lagi saya mengingatkan bahwa sangat penting untuk memahami substansi masalah secara komplek. Dalam konteks yang lebih luas, kerusakan pagar hanyalah persoalan kecil dibandingkan dengan potensi kerugian yang ditimbulkan oleh proyek geothermal.
Isu keselamatan dan keamanan lingkungan jauh lebih penting dan seharusnya menjadi fokus utama diskusi. Semangat perjuangan kelompok Poco Leok bukan hanya untuk memperbaiki pagar, tetapi untuk melindungi ruang hidup mereka yang terancam oleh proyek yang dianggap berpotensi merusak.
Jika kita merenungkan kembali, kerusakan pagar bisa dianggap sebagai masalah "receh" jika dibandingkan dengan dampak jangka panjang yang mungkin terjadi akibat eksploitasi geothermal. Oleh karena itu, alih-alih mengumpulkan uang untuk perbaikan pagar, perhatian seharusnya dialihkan kepada dampak ekologis yang lebih besar yang akan dihadapi oleh masyarakat Poco Leok.
Tanggapan Terhadap Pernyataan Bupati
Saya, ingin memberikan catatan kritis juga terhadap pernyataan Bupati sebagaimana yang ditulis dalam berita tersebut bahwa Bupati Herybertus Nabit menegaskan, jika uang untuk perbaikan pagar tersebut ada, ia akan mengembalikannya kepada kelompok penolak. Namun, bagi saya, pernyataan ini terkesan mengalihkan perhatian dari isu utama yang dihadapi oleh masyarakat. Fokus seharusnya tidak hanya pada kerusakan fisik, tetapi juga pada dampak sosial dan lingkungan dari proyek geothermal yang dipaksakan.
Bupati seharusnya mulai memikirkan kerugian besar yang akan dialami masyarakat, seperti hilangnya mata pencaharian, kerusakan lingkungan, dan dampak kesehatan yang mungkin timbul. Diskusi yang lebih substansial tentang proyek geothermal dan bagaimana hal itu akan mempengaruhi kehidupan masyarakat harus menjadi prioritas.
Keadilan Restoratif dan Proses Hukum
Toko lain yang disebutkan dalam berita tersebut adalah, Praktisi hukum, Siprianus Ngganggu, yang menggarisbawahi bahwa pengumpulan dana untuk perbaikan pagar tidak dapat dianggap sebagai bagian dari proses keadilan restoratif. Ini adalah pandangan yang valid, mengingat bahwa keadilan restoratif seharusnya melibatkan penyelesaian yang lebih mendalam dan berfokus pada dampak sosial dari tindakan tersebut. Mengumpulkan uang untuk memperbaiki pagar tidak menghentikan proses penyidikan yang sedang berlangsung, dan hal ini perlu ditekankan agar masyarakat tidak terjebak dalam narasi yang menyesatkan.
Karena itu, Berita mengenai pengrusakan pagar dan penggalangan dana untuk perbaikannya mencerminkan lebih dari sekadar konflik lokal. Ini adalah gambaran dari ketegangan yang lebih luas antara pembangunan dan hak-hak masyarakat adat, antara kepentingan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Penting bagi masyarakat Manggarai untuk memahami substansi di balik berita ini dan tidak terjebak dalam narasi yang bisa mengaburkan perjuangan mereka. Sebuah dialog yang konstruktif dan inklusif tentang proyek geotermal, dampaknya, dan hak-hak masyarakat harus diupayakan untuk memastikan bahwa suara mereka didengar dan dipertimbangkan dengan baik.
Menghadapi isu-isu seperti ini, adalah tanggung jawab kita bersama sebagai masyarakat untuk kritis dan analitis terhadap setiap informasi yang disampaikan. Hanya dengan cara ini kita bisa mencapai pemahaman yang lebih baik dan solusi yang lebih berkelanjutan bagi semua pihak yang terlibat.